Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh _monggo pinarak ingkang sekeco_

Kamis, 24 Maret 2011

Antara Akal dan Hati

Kehidupan manusia itu ada lahir dan ada batinnya.
Persoalan kehidupan lahir manusia jelas dapat dilihat dan mudah dapat difahami.
Tetapi persoalan kehidupan batin manusia bersifat maknawiyah.
Batin itu sendiri bermaksud tersembunyi.
Oleh karena itu, ia lebih sukar untuk dilihat dan lebih sukar lagi untuk difahami .
Justru itu kita lihat, banyak manusia mampu menyelesaikan dan memenuhi keperluan kehidupan lahiriah mereka.
Baik dalam soal makan minum, pakaian, kesehatan, tempat tinggal, kerja dan sebagainya.
Tetapi dalam soal keperluan kehidupan batiniah mereka, masih banyak manusia yang teraba-raba dan mencari-cari.
Sebab itu, banyak manusia masih bergantung dengan akal dalam mengarungi kehidupan batiniah mereka seolah-olah akallah yang layak dan mampu untuk dijadikan panduan dan sandaran.
Mereka merasakan akal sudah cukup untuk mencari Tuhan.
Mereka merasakan akal sudah cukup untuk memimpin manusia. Mereka merasakan akal sudah cukup untuk menghindar manusia dari berbuat maksiat dan kemungkaran.
Mereka merasakan akal sudah cukup untuk mendorong manusia beribadah dan berbuat kebaikan.
Mereka juga merasakan akal sudah cukup untuk memelihara mereka dari terjebak dan terjerumus ke dalam keruntuhan akhlak dan moral.

Disebabkan akal bisa berfikir dan bisa menghasilkan rumusan yang logik, maka banyak yang mengambil akal sebagai tempat rujukan dan bersandar kepada akal untuk mendapat pimpinan.
Diserahkan kepada akal supaya seseorang itu menjadi baik.
Diserahkan juga kepada akal agar seseorang itu tidak berlaku jahat.
Hanya karena akal itu kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, maka diserahkan kepada akal untuk membuat pilihan.
Akal memang bisa menimbang di antara yang baik dan yang buruk, di antara yang merugikan dan yang menguntungkan dan di antara yang selamat dan yang berbahaya.
Tetapi akal tidak mampu memilih.
Akal tidak mampu memihak.
Sifat akal adalah berkecuali atau "neutral".
Apa pun bentuk tindakan yang diambil oleh seseorang itu bukanlah disebabkan oleh apa yang difikirkan oleh akalnya tetapi apa yang didorong oleh nafsu atau apa yang dirasakan oleh hatinya.
Logikanya akal itu dipengaruhi oleh nafsu atau hati.
Kalau hati baik dan bersih dan nafsu terdidik, maka hati akan bertindak mengikuti apa yang difikirkan logika dan baik oleh akal.
Tapi kalau hati kotor dan jahat dan nafsu rakus, maka nafsu bisa mengalahkan logika akal dan akan bertindak mengikuti kemahuannya walaupun ianya bertentangan dengan pertimbangan akal.
Oleh karena itu, menyerahkan baik buruk seseorang itu pada logika akalnya adalah satu perbuatan yang tidak masuk akal.
Untuk menentukan seseorang itu menjadi baik bukanlah dengan membina akalnya tetapi dengan membina hatinya dan mendidik nafsunya.
Kita tidak boleh menyerahkan anak kita kepada kemampuan akalnya dan ilmunya semata-mata dan mengharap dia akan jadi baik.
Hatinya mesti dibina dan nafsunya mesti dididik.
Amalan dan akhlak yang baik itu terpancar dari hati yang baik.
Amalan dan akhlak yang buruk pula terpancar dari hati yang jahat.
Ia tidak ada kena-mengena dengan akal.
Hanya kalau hati baik dan akal bijak, maka akan timbullah banyak ide2 bagaimana hendak berlaku baik.
Tapi kalau hati jahat dan akal bijak maka akan timbullah banyak ide2 bagaimana hendak berbuat jahat.

Rasulullah SAW ada bersabda: Maksudnya: "Dalam diri anak Adam itu ada seketul daging. Kalau baik daging itu maka baiklah orangnya. Kalau jahat daging itu, maka jahatlah orangnya.
" Oleh karena itu, sangat bahaya kalau akal dibina tetapi hatinya dan nafsunya diabaikan.
Dia akan menjadi sejahat-jahat manusia karena kejahatannya akan dibantu oleh kepandaian, keahlian berfikir akalnya.
Dia akan menjadi penjahat yang licik dan pandai menyembunyikan kejahatannya.


Nah.. Termasuk yang mana hati kita ?
.

Tidak ada komentar: