Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh _monggo pinarak ingkang sekeco_

Selasa, 03 Mei 2011

Apa yang kita temui di alam barzah? 

 Allah berfirman dalam Al Quran:
 "Dan Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat"
 
 Muhammad ibnu Ka'ab al Qurazhy di panggil menghadap khalifah Umar bin 'Abdul Aziz, beliau memandangi sang khalifah penuh heran:
 "Wahai ibnu Ka'ab! Engkau memandangiku dengan pandangan yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya" tanya sang khalifah kepada Ibnu Ka'ab. 
 
 "Aku sungguh heran dan takjub ya..khalifah" ujar Ibnu Ka'ab. 
 
 "Apa yang membuatmu takjub?"
 
 "Wahai Amirul mukminin!" jawab Ibnu Ka'ab,"...aku takjub, heran melihat apa yang menyebabkan kulit baginda berubah, tubuh kurus dan rambut pun rontok...
 
 " Khalifah menjawab:
 "Duhai, lalu bagaimana jika engkau melihatku nanti, saat aku telah dimasukkan ke dalam liang lahat, air nanah menetes di pipiku, dan dari lubang hidungku keluar

Apa yang kita temui di alam barzah?


Allah berfirman dalam Al Quran:
"Dan Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat"

Muhammad ibnu Ka'ab al Qurazhy di panggil menghadap khalifah Umar bin 'Abdul Aziz, beliau memandangi sang khalifah penuh heran:

"Wahai ibnu Ka'ab! Engkau memandangiku dengan pandangan yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya" tanya sang khalifah kepada Ibnu Ka'ab.


"Aku sungguh heran dan takjub ya..khalifah" ujar Ibnu Ka'ab.


"Apa yang membuatmu takjub?"


"Wahai Amirul mukminin!" jawab Ibnu Ka'ab,"...aku takjub, heran melihat apa yang menyebabkan kulit baginda berubah, tubuh kurus dan rambut pun rontok...

"
Khalifah menjawab:
"Duhai, lalu bagaimana jika engkau melihatku nanti, saat aku telah dimasukkan ke dalam liang lahat, air nanah menetes di pipiku, dan dari lubang hidungku keluar ulat-ulat tanah..."


Alam kubur adalah haq, demikian juga apa yang ada di dalam alam tersebut.


Rasulullah bersabda:
"Suara jenazah itu didengarkan oleh semua makhluk kecuali manusia, Jika saja manusia mendengarkan (teriakan) itu, mereka pasti akan pingsan ketakutan."


Jika manusia sudah mati dan dimasukan ke dalam kubur, maka ia berada di antara dua pilihan: antara kenikmatan dan siksaan.


Sebuah riwayat dari Iman Ahmad bin Hambal dan Abu Daud dari sahabat mulia, al-Bara' ibnu Azib yang mengatakan:

" Suatu ketika,kami keluar bersama Rasulullah mengantarkan jenazah seorang anshor,hingga kami pun tiba di kuburnya. Maka beliau pun duduk dan kami ikut duduk di sekitar beliau. Kepala kami tertunduk seolah diatasnya ada burung-burung yang bertengger. Rasulullah kemudian mengangkat pandangan dan melihat ke arah langit. Kemudian beliau menurunkannya dan memandang ke arah liang kubur. Beliau kemudian berujar:
"Aku berlindung pada Allah dari adzab kubur."
Beliau mengulang berkali-kali.

Setelah itu beliau bersabda:

"Sesungguhnya seorang hamba yang beriman jika ia benar sebentar lagi alam memasuki akhirat dan meninggalkan dunia, fatahkah padanya malaikat maut yang kemudian di dekat kepalanya,lalu berkata:
''Keluarlah wahai jiwa yang tenang menuju ampunan dan keridhoan dari Allah!''
Maka jiwanya pun keluar mengalir seperti mengalirnya air dari bejana.
Lalu turunnya para malaikat dari langit,wajahnya putih bagai matahari.
Mereka membawa kain-kain kafan putih yang berasal dari surga bersama dengan nampan-nampannya.
Merekapun duduk di sisinya sejauh pandangan mata.
Maka bila malaikat maut telah mencabut ruhnya, mereka tidak membiarkannya berada ditangannya sekejap pun.

Maka keluarlah ruhnya dengan semerbak wangi terbaik yang pernah ada.
Para malaikat pun membawanya naik (ke langit),sehingga tak satu pun malaikat di langit yang mereka lalui melainkan bertanya:
'Ruh apakah ini?'
Maka di jawablah:
'Ini adalah ruh sifulan',mereka menyebutnya dengan nama terbaik yang di berikan padanya.
Hingga akhirnya mereka di pintu-pintu langit dunia.
Dibukalah pintu itu dan ia pun disambut oleh para penghuni langit hingga tiba di langit ke tujuh.
(Di sana) di perintahkan:
"Tulislah catatan amalnya dalam 'Illiyun, dan tahukah engkau apa itu 'Illiyun! (itu) adalah kitab yang tertulis dan disaksikan oleh orang-orang yang di dekatkan (pada Allah).
'Maka ditulislah (kitabnya) di 'Illiyun.
Setelah itu, di perintahkanlah:
'Kembalikan ruhnya kebumi, karena sesungguhnya Allah telah menjanjikan pada mereka bahwa dari bumi aku menciptakan mereka, kepadanya kami alam kembalikan mereka, dan darinya kami akan mengeluarkan mereka kembali.
'
ia pun di kembalikan kebumi,lalu ruhnya di kembalikan (ke jasadnya) kemudian datanglah dua malaikat yang sangat keras (suaranya) yang memerintahkan untuk duduk.

Keduanya lalu bertanya;

'Siapa Tuhanmu?
'
Apa agamamu'

Apa yang kau katakan tentang pria yang diutus kepada kalian itu (Muhammad)

Ia pun mejawab:

'Tuhanku adalah Allah'

agamaku adalah islam, dan pria yang di utus kepada kami adalah Muhammad Rasulullah.

'
'Dari mana engkau tahu ia adalah utusan Allah?
Tanya kedua malaikat itu.

Hamba itu menjawab:
' Ia datang membawa petunjuk yang jelas dari Tuhan kami, maka aku pun beriman padanya dan membenarkannya.

'
Rasulullah menjelaskan." inilah yang di maksud dengan firman Allah:
'Dan Allah alam meneguhkan orang dengan perkataaan yang teguh kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.'

Apa yang kita temui di alam barzah?
Sumber :
http://www.raudlotuttolabah.com/2010/03/apa-yang-kita-temui-di-alam-barzah.html

Hilang Arah, jadinya lupa diri...

Jika memang jamu terasa pahit olehmu, itu lumrah 
Karena apa..?
Karena engkau sedang terluka
Dan perlu pengobatan

Sayangnya engkau tidak mau tahu engkau sedang sakit
Sungguh malangnya dirimu...

Jika madu pilihanmu tahukah engkau...?
Bahwa terlupa itu melalaikan,...
Tentang apa..? 


Hilang Arah, jadinya lupa diri...

Jika memang jamu terasa pahit olehmu, itu lumrah
Karena apa..?
Karena engkau sedang terluka
Dan perlu pengobatan

Sayangnya engkau tidak mau tahu engkau sedang sakit
Sungguh malangnya dirimu...

Jika madu pilihanmu tahukah engkau...?
Bahwa terlupa itu melalaikan,...
Tentang apa..?

Tentang,..
Jalanmu kembali...
Engkau telah tutup sendiri
Sanggupkah engkau mencuci..?
Karat keras hati tak terkendali
Hingga nafsu menguasai
Keranjang kekalutan

Otak rekayasa bercabang bisa

Demi Alam bawah sadar
keBangkitan pengontrol diri

Tanpa kendali..
Pasti terjadi
Tanpa penghalang
Pasti datang

Kata akhir ...
Ujung langkah hampir kau temui
Punah...
Tapi sayang nafsu menguasaimu
Dalam sadarmu dunia engkau gagah, bermegah
Tapi engkau lupakan cerminmu
Engkau nikmati semut di seberang lautan
Sedangkan tiada yang engkau dapatkan
Malah engkau sengaja membuang umurmu dalam ke sia-siaan

Di depan...
Mata gajahmu menghalangi kebahagiaan
Mengapa engkau tidak mau tahu...
Kemana hati nuranimu...
Akankah tertipu itu nikmat.?
Kemana akal sehatmu...
Akankah Ilmu itu menipu.?
Tertipu oleh apa...?

Janganlah di kosongkan yang berisi itu
Tambahkan tiap waktu
Manisnya pengetahuan
Yang berisi sedekahkan
Tanpa harap balasan


03_05_2011
Iskandar Jaya

Minggu, 01 Mei 2011

Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy – Hikmah no 5 


Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy – Hikmah no 5

Sahabats,
Setelah kita mulai belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari seorang shiddiqin, yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra.marilah kita melanjutkannya ke hikmah berikutnya.
Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang SyaikhIbnu Aththoillah dan Ustadz Salim Bahreisy, mari kita awali kajian dan renungan kita
______________________________________________________________________
Hikmah no 5
"Kesungguh-sungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijaminkanbagimu serta keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu."
Tambahan keterangan Ustadz Salim Bahreisy (penerjemah) di halaman 15-16:
Firman Allah di QS.Al-Ankabut[29]:60: "Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa."
(QS. ThaaHaa[20]:132)
Kerjakan apa yang menjadi kewajiban kita terhadap Kami (Allah), dan Kami melengkapi bagi kita bagian Kami. Di sini ada 2 hal, satu, yang dijamin Allah, maka hendaknya kita jangan menuduh (su'udhon) terhadap Allah. Kedua, yangdituntut Allah maka jangan kita abaikan.
Dalam sebuah hadits yang kurang lebih artinya demikian:
"Mengapakah orang-orang yang mengagungkan orang yang kaya, pemboros dan menghina ahli-ahli ibadah,serta yang selalu mengikuti tuntunan Al-Quran hanya yang sesuai dengan hawanafsu mereka sedangkan ayat-ayatyang tidak sesuai dengan hawanafsunya mereka tinggalkan, padahal yang demikian itu berarti mempercayai sebagian Kitab Allah, dan mengabaikan (kufur) terhadap sebagian isi Kitab-Nya. Mereka berusaha untuk mencapai apa-apa yang dapat dicapai tanpa usaha,yaitu bagian yang pasti tiba dan ajal yangsudah ditentukan, dan rezeki yang menjadi bagiannya, tetapi tidak berusahauntuk mencapai apa yang tidak dicapai kecuali dengan usahanya, yaitu pahala-pahala yang besar dan amal-amal ibadahdan 'dagangan' yang tidak akan rusak."
Ibrahim Al-Khawwash berkata: "Janganmemaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yangdiamanahkan kepadamu."
Oleh sebab itu, maka siapa yang berusaha untuk mencapai yang sudah dijamin, dan mengabaikan apa yang ditugaskan kepadanya, maka berarti buta mata hatinya, karena sangat bodohnya.
______________________________________________________________________
Sahabats,
Kewajiban yang hendaknya kita ikhtiarkan dengan perjuangan sekuat tenaga adalah secara singkat mencari keridhoan Allah SWT dalam berbagai kondisi kita. Dan jika dirinci lebih lanjut a.l.:
- Dzikrullah baik dalam duduk, berdiri, berbaring, dsb (QS. 3:191)
- Khusyu' dalam shalat (QS. 2:45-46)
- Shaum lahir maupun batin (QS. 2:183)
- Menyempurnakan keberserah-dirian kepada Allah SWT (QS. 2:208)
- Takwa dengan sebenar-benarnya takwa (haqqatu qattihi; QS. 3:102)
- Menerima dengan ridho dan menjaga rezeki harta yang Allah anugrahkan
- Dsb.
Sesungguhnya rezeki harta yang sudah, sedang maupun akan kita terima, telah Allah tetapkan (qodho) di Lauh Al-Mahfudz. Tentu saja, keyakinan kita terhadap hal tersebut serta penyikapan kita sesuai dengan tingkat keimanan dan ketakwaan kita masing-masing. Itulah yang dimaksudkan oleh Syaikh Ibnu Aththoillah ra. sebagai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu.
Sedangkan istiqamah dzikrullah, shalat yang khusyu', keberserah-dirian yang total kepada Allah, menerima apa-apa yang Allah anugrahkan kepada kita tidaklah Allah berikan jika kita tidak berjuang dengan keras, itulah yang dimaksud oleh beliau sebagai kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu.
Demikianlah, jika kita mengabaikan yang menjadi kewajiban karena energi dan kesempatan kita sudah habis dipergunakan mencari apa-apa yang sudah dijamin oleh Allah SWT, maka kita disebut buta mata hati.
Sahabats,
Marilah kita merenungi hikmah di atas dengan qalbu yang semoga Allah bebaskan dari penguasaan hawanafsu, serta akal nalar yang mengikuti hukum-hukumnya dengan optimal.
Laa haula wa laa quwwata illa billahil Aliyyul Adhim.
Wa Allahu A'lam bishawwab.[]

Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy – Hikmah no 5 | Serambi Tashawwuf

http://serambitashawuf.wordpress.com/2011/04/21/pojok-ngaji-terjemah-al-hikam-karya-syaikh-ibnu-aththoillah-oleh-ustadz-salim-bahreisy-%e2%80%93-hikmah-no-5/#comment-23

Sabtu, 30 April 2011

Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy – Hikmah no 4

Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy – Hikmah no 4

Sahabats, Setelah kita mulai belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari seorang shiddiqin, yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra.marilah kita melanjutkannya ke hikmah berikutnya.
Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah dan Ustadz Salim Bahreisy, mari kita awali kajian dan renungan kita
______________________________________________________________________________________
Hikmah no 4"Istirahatkan dirimu dari at-tadbir(kerisauan mengatur kebutuhan), sebab apa yang sudah dijaminkan/diselesaikan oleh selainmu, tidak perlu engkau sibuk memikirkannya."

Ustadz Salim Bahreisy menambahan dalam buku terjemahannya di hal 14:
Sebagai seorang hamba, kita wajib dan harus melulu mengenal kewajiban, sedang jaminan upah/balasan ada di tangan majikan, maka tidak usah merisaukan pikiran maupun perasaan untuk mengatur (tadbir), karena mengkhawatirkan apa yang telah dijaminkan itu tidak tiba, atau terlambat.
Sebab ragu terhadap jaminan Allah adalah tanda kurangnya iman kita.
_____________________________________________________________________________________
Sahabats, Marilah kita menyadari bahwa kalimat hikmah tersebut keluar dari seorang yang pengenalannya (ma'rifat) kepada Allah beserta Af'al, Shifat dan Asma-Nya telah mencapai maqam/tingkat yang jauh di atas maqam kita, yaitu kesempurnaan atas seizin Allah.
Beliau yang telah mengenal bahwa Allah adalah Rabb yang sempurna Pemeliharaan serta Pemberian Rezeki-Nya kepada makhluk-makhluknya, menasihatkan kepada kita yang seringkali kelalaian kita menyebabkan kurang yakinnya kita atas Pemeliharaan serta Penjaminan rezeki kita oleh Allah.
Hendaknya kesibukan kita lebih berfokus pada penyempurnaan penunaian kewajiban-kewajiban kita kepada Allah, sebab Dia, Rabb yang sekaligus Ar-Raazak pasti akan membalas penunaian kewajiban tersebut dengan anugrah-Nya yang akan mencukupi kebutuhan kita.
Di antara kewajiban kita yang telah Allah firmankan dalam Al-Quran antara lain,"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku."(QS. ThaaHa [20]:14)"

…Katakanlah: "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada Nya", (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."(QS. Ar-Ra'ad [13]:28)"
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?"
Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."(QS. Al-A'raaf [7]:172)
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik".Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."(QS. Al-An'am [6]:161-162)"
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."(QS. Al-Baqarah [2]: 45-46)
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang lubb-nya aktif (ulilalbab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."(QS. Ali Imran [3]: 190-191)
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa."(QS. ThaaHaa [20]:132)

Laa haula wa laa quwwata illa billahil 'Aliyyul 'Adhim.

Wa Allahu A'lam bi shawwab.[]


Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy – Hikmah no 4 | Serambi Tashawwuf

http://serambitashawuf.wordpress.com/2011/04/08/pojok-ngaji-terjemah-al-hikam-karya-syaikh-ibnu-aththoillah-oleh-ustadz-salim-bahreisy-hikmah-no-4/

Jumat, 29 April 2011

Kisah Khalifah Umar Bin Khattab yang Melayani Rakyat-nya 


Kisah ini merupakan kisah inspiratif dari khalifah Umar Bin Khattab yang senantiasa melayani rakyatnya , bahkan beliau secara diam - diam melakukan perjalanan keluar masuk kampung untuk mengetahui kehidupan rakyatnya.
 Beliau tidak ingin satu pun rakyatnya tidak terlayani , hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang dilalaikan. 

Suatu malam , bersama salah seorang pembantunya, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. 

Dari sebuah rumah yang tak layak huni, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan.

 Umar bin khattab dan pembantunya bergegas mendekati rumah itu.
 Setelah mendekat, Umar melihat seorang perempuan tengah memasak di atas tungku api.
 Asap mengepul dari panci, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang. 

“Assalamu’alaikum,” Khalifah Umar m

Kisah Khalifah Umar Bin Khattab yang Melayani Rakyat-nya


Kisah ini merupakan kisah inspiratif dari khalifah Umar Bin Khattab yang senantiasa melayani rakyatnya , bahkan beliau secara diam - diam melakukan perjalanan keluar masuk kampung untuk mengetahui kehidupan rakyatnya.
Beliau tidak ingin satu pun rakyatnya tidak terlayani , hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang dilalaikan.

Suatu malam , bersama salah seorang pembantunya, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil.

Dari sebuah rumah yang tak layak huni, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan.

Umar bin khattab dan pembantunya bergegas mendekati rumah itu.
Setelah mendekat, Umar melihat seorang perempuan tengah memasak di atas tungku api.
Asap mengepul dari panci, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

"Assalamu'alaikum," Khalifah Umar memohon izin untuk masuk.

Si Ibu yang tidak mengetahui siapa gerangan tamu nya itu memberi izin untuk masuk.

"Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?" tanya Umar.

Si ibu itu menjawab, "Anakku."

"Apakah ia sakit?"

"Tidak," jawab si ibu lagi. "Tapi ia kelaparan."

Khalifah Umar ingin sekali mengetahui apa yang sedang dimasak oleh ibu itu.
Kenapa begitu lama sudah dimasak tapi belum juga matang.
Akhirnya khalifah Umar berkata, "Wahai ibu, Apa yang sedang engkau masak?"

Ibu itu menjawab, "Engkau lihatlah sendiri!"

Khalifah umar dan pembantunya segera melihat ke dalam panci tersebut.

Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut seraya memastikan Umar berteriak, "Apakah engkau memasak batu?"

Perempuan itu menganggukkan kepala.

Dengan suara lirih, perempuan itu menjawab pertanyaan khalifah Umar, "Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku.
Aku seorang janda.
Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa.
Sementara aku berusaha untuk bekerja tetapi karena kewajiban menjaga anakku, hal itu tidak dapat kulakukan.
Sampai waktu maghrib tiba, kami belum juga mendapatkan makanan apapun juga.
Anakku terus mendesakku.
Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci.
Kemudian batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi.
Ternyata tidak.
Ia tetap sajamenangis.

Sungguh Khalifah Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin.
Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya."

Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, pembantu khalifah Umar ingin menegur perempuan itu.
Namun khalifah Umar dengan cepat mencegahnya.

Dengan air mata berlinang ia pamit kepada si Ibu dan mengajak pembantunya cepat-cepat pulang ke Madinah.
Khalifah Umar langsung menuju gudang baitul mal untuk mengambil sekarung gandum dan memikulnya di punggungnya.
Ia kembali menuju ke rumah perempuan tadi.

Di tengah perjalanan sang pembantu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saja yang memikul karung itu."
Khalifah Umar menjawab dengan air mata yang berlinang: "Rasulullah pernah berkata, jika ada seorang pemimpin yang membiarkan rakyatnya mati kelaparan tanpa bantuan apapun, Allah mengharamkan surga untuknya." Khalifah Umar kemudian melanjutkan, Biarlah beban berat ini yang akan membebaskanku dari siksaan api neraka kelak."

Dalam kegelapan malam Khalifah Umar berjuang memikul karung gandum itu, hingga akhirnya ia sampai ke rumah sang Ibu.
Dengan kaget, sang Ibu bertanya: "Siapakah anda?
Bukankah anda yang datang tadi?"

Khalifah Umar tersenyum dan menjawab, "Benar. Saya adalah seorang hamba Allah yang diamanahkan untuk mengurus seluruh keperluan rakyat saya. Maafkan saya telah mengabaikan anda."

Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa seorang pemimpin tidak seharusnya termanjakan untuk pelayanan dari bawahan maupun instansinya .
Melainkan seorang pemimpin harus melayani bawahannya maupun rakyatnya .
Tentunya pimpinan merupakan amanah yang diberikan untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Al-Hikam 3. Pendekatan Abdi pada Khaliqnya – Syaikh Ibnu Aththoillah Al Iskandary. 

 3.“Kekerasan himmah itu, tidak dapat menembus tirai takdir.” 



Al-Hikam 3. Pendekatan Abdi pada Khaliqnya – Syaikh Ibnu Aththoillah Al Iskandary.

3."Kekerasan himmah itu, tidak dapat menembus tirai takdir."

* Pengertian himmah
Menurut Ibnu Qoyyim ra., bahwa himmah adalah awal hasrat.
Secara khusus, orang-orang mengartikannya sebagai puncak hasrat.
* Hammu adalah permulaan hasrat, dan himmah adalah puncak hasrat.

Ustadz Salim Bahreisy dalam terjemahnya menambahkan dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran berikut:

"Al Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwir [81]:27-29)

Juga,
"Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Insan [76]:30)

Dalam Al-Quran, persoalan takdir Allah firmankan dengan serangkaian ayat-ayat-Nya yang membutuhkan qalb/hati yang suci dari penyakit-penyakitnya serta akal nalar yang memenuhi kaidah mantiq/hukum logika yang tertib.
Karena seandainya kita memahami ayat-ayat tersebut sepotong-sepotong dan tidak menganalisis secara nalar dengan paripurna, ditambah kemudian hati kita sedang terkuasai oleh penyakit melampiaskan hawa nafsu diri, maka kitapun akan salah dalam menangkap makna takdir seperti yang Allah kehendaki.

Sekedar menambah wawasan kita tentang takdir dalam Al-Quran, terdapat ayat-ayat yang menerangkan bahwa Allah-lah yang memberi hidayah/petunjuk atau pun menyesatkan kepada kita, misalnya:

"Maka apakah orang yang dijadikan menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik.?
Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. Fathir[35]:8)

Namun pada ayat-ayat lainnya disebutkan bahwa kita yang hendaknya mengubah keadaan diri kita.

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS.Ar-Ra'd[13]:11)

Dalam memahami persoalan takdir yang nampak rumit namun penting dalam kehidupan kita, sesungguhnya kita (saya lebih tepatnya) benar-benar memerlukan bimbingan seorang guru yang telah memperoleh kesempurnaan ma'rifatullah.

Dalam hikmah no 3 di atas, Syaikh Ibnu Aththoillah ra., seorang yang qalb-nya telah mencapai kesempurnaan ma'rifatullah menyampaikan bahwa sekuat apa pun himmah kita, hal itu tidak akan mampu menembus takdir diri kita.

Dengan senantiasa memohon rahmat dan bimbingan Allah, marilah kita merenungkan serta berusaha mengamalkan hikmah tersebut.
Semoga Allah meridhoi kita. Amiin. ..

Wallahu a'lam bi shawwab (Dan Allah-lah yang Paling berilmu dengan Kebenaran-Nya) [].

Sumber : http://triboedihermawan.com/2011/04/01/ngaji-terjemah-al-hikam-karya-syaikh-ibnu-aththoillah-oleh-ustadz-salim-bahreisy-hikmah-no-3/

Kamis, 28 April 2011

Al-Hikam 2. Pendekatan Abdi pada Khaliqnya – Syaikh Ibnu Aththoillah Al Iskandary. 

 
 2.“Keinginanmu untuk tajrid , padahal Allah masih menempatkan kamu pada masih dalam asbab/ahli kasab , itu termasuk syahwat khafiyyah .
 Sebaliknya keinginanmu untuk kasab padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan tajrid , maka keinginanmu tersebut berarti menurun dari himmah al-’aliyyah. ” 


Al-Hikam 2. Pendekatan Abdi pada Khaliqnya – Syaikh Ibnu Aththoillah Al Iskandary.


2."Keinginanmu untuk tajrid , padahal Allah masih menempatkan kamu pada masih dalam asbab/ahli kasab , itu termasuk syahwat khafiyyah .
Sebaliknya keinginanmu untuk kasab padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan tajrid , maka keinginanmu tersebut berarti menurun dari himmah al-'aliyyah. "

* Tajrid adalah melulu beribadah serta mengagungkan Allah karena keyakinan yang kuat terhadap jaminan Allah terhadap kebutuhan hidupnya.
* Sedangkan yang dimaksud masih dalam asbab/ahli kasab adalah semua perbuatan kita masih dalam wilayah hukum sebab-akibat.

* Syahwat khoffiyah adalah cinta duniawi yang tersembunyi/tersamar.

* Sedangkan himmah al-'aliyyah adalah semangat tinggi berma'rifat yang Allah anugrahkan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia pilih.

Ustadz Salim Bahrisy dalam terjemahnya menambahkan sbb:

Sebab kewajiban kita sebagai seorang hamba, adalah menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya.
Lebih-lebih apabila majikan itu Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan dan yang menyusahkan bagi kita.

Dan tanda bahwa Allah menempatkan diri kita dalam golongan Al-asbab (golongan yang harus berusaha kasab/bekerja adalah bila terasa ringan bagi kita mengerjakan pekerjaan/kasab tersebut, dan hal itu tidak menyebabkan kita meninggalkahn kewajiban-kewajiban agama.
Juga dengan hasil kerja itu tidak menambah ketamakan kita pada dunia serta melupakan hak orang lain.

Sebaliknya, tanda bahwa Allah SWT telah mendudukkan seseorang dalam golongan Ahli tajrid (hamba yang tidak berkewajiban kasab karena keyakinannya bahwa Allah adalah Ar-Raazak sedemikian kuat Dia tancapkan ke dalam qalb-nya) adalah bila Allah memudahkan baginya kebutuhan hidupnya dari jalan yang tak disangka (min ghairu laa yahtasib), kemudian sekiranya terjadi kekurangan jiwanya tetap tenang karena bersandar kepada ketawakalannya kepada Allah dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya.

Syaikh Ibnu Aththoilah diriwayatkan pernah berkata :
"Beberapa kali aku telah meninggalkan pekerjaan kasabku tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang ditinggalkan kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya lagi.
Seorang murid merasa, bahwa tak mungkin sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para kekasih Allah dengan cara sibuk dengan ilmu-ilmu syariat lahir serta bergaul dengan masyarakat, lalu ia menghadap Syaikh-nya.
Tapi sebelum ia bertanya,Sang Syaikh bercerita,
'Ada seorang yang terkemuka dalam ilmu syariat lahir, ketika ia mulai dapat merasakan sedikit dari perjalanan suluk ini, ia datang menemuiku dan berkata,'Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu Guru.
' Syaikh kemudian berkata,'Bukan itu yang harus kamu lakukan, namun tetaplah dalam kedudukanmu semula, sedang apa yang akan Allah berikan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu.

Memang untuk bisa mengenali kedudukan kita yang Allah kehendaki saat ini, apakah ahli tajrid ataukah masih dalam asbab/ ahli kasab membutuhkan beberapa hal yang sangat berat dan tidak mudah.
Yaitu membutuhkan qalb yang mampu menjadi media menangkap kehendak Allah atas diri kita secara terus menerus, seperti yang disampaikan Rasulullah saw.

Dalam hadits qudsy berikut:
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda :
"Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman:
"Barang siapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai dari pada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunnat-sunnat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang diapakai untuk mendengar, penglihatan yang dia gunakan untuk melihatnya, tangan yang dia gunakan untuk menamparnya dan kaki yang untuknya dia berjalan. Jika ia memohon kepadaKu, niscaya Aku sungguh-sungguh memberinya. Jika ia memohon kepadaKu,niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan seperti kebimbangan Ku terhadap jiwa hambaKu yang beriman ini yang mana ia tidak senang mati sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadapnya". (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Untuk hal itu, marilah kita senantiasa berjuang dan berjuang dalam melawan dominasi hawa nafsu, syahwat, serta tipu daya para musuh para Nabi dan Rasul Allah.
Serta tak lupa untuk selalu memohon perlindungan, bimbingan dari Allah SWT.
Laa haula wa laa quwwata illabillahi.

Wallahu a'lam bi shawwab []

Rabu, 27 April 2011

Al-Hikam - Pendekatan Abdi pada Khaliqnya 1. Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat kurnia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan/dosa.

Al-Hikam - Pendekatan Abdi pada Khaliqnya


1. Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat kurnia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan/dosa.

Kalimat : Laa ilaha illallah.
Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah.

Dhohirnya syari`at menyuruh kita beramal, sedangkan hakikat syari`ah melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada kurnia rahmat Allah.

Kalimat : Laa haula wala quwwata illa billahi.
Tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan kurnia rahmatNya semata-mata.

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.
Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (Yunus : 58).


Sedang bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada kurnia rahmat Allah yang memberi taufiq, hidayah kepadanya yang akhirnya pasti ia ujub , sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada Adam, ia berkata :
Iblis berkata: "Aku lebih baik dari padanya (Adam), karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". (Shaad : 76).

Juga telah terjadi pada Qaarun ia berkata :
Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". (Al-Qashash : 78).

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon,binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, hidayah dan kurnia Allah.

Sedangkan kita harus bertauladan pada Nabi Sulaiman as.
Ketika ia menerima ni`mat kurnia Allah, ketika mendapat istana ratu Balqis.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip".
Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:"Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).
Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (An Naml : 40).


Petunjuk
Sumber : Buku Al-Hikam Pendekatan Abdi pada Khaliqnya

oleh Abul Fadhel Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin Alhusain bin Atha`Illah Al Iskandary.